12 December 2015

December: It's been a long time

Halo *bersihin sarang laba-laba*
Udah di penghujung 2015 aja. Lagi yutuban tiba-tiba keinget kalo saya punya blog. Iseng-iseng buka, ternyata banyak yang berubah selama beratus hari tak tersentuh. Pertama, semua blog asal indonesia berubah jadi domain .co.id (dot koit), yang kedua, dan yang paling menyebalkan, adalah layout blog saya super acak-acakan. Image layout jadi ilang-ilangan, box saling tumpang tindih. Siapa lagi kalo bukan gara-gara imageshack pelakunya. Dahulu kala, imageshack ini terbaik dalam urusan hosting menghosting foto dan gambar. Semua forum internet tunduk kepadanya. Tak terkecuali pun dengan saya. Saya ikut-ikutan pake image hosting yang satu ini sejak hmm.. jaman smp mungkin. Menyenangkan sekali rasanya menggunakan hostingan yang satu ini, udah gratis, cepet, unlimited bandwidth, dan yang paling penting, bisa direct link tanpa mengubah kualitas foto dan tidak resize otomatis. Sangat cocok buat nampilin image layout. Tapi sayang, lama kelamaan dia mulai berubah. Dia yang tadinya gratis kini berbayar, fasilitas direct link pun dibatasi dan tidak stabil. Aku menyadari dia tak seperti yang dulu. Akhirnya, kuputuskan untuk berpaling ke layout yang baru, karena perjalanan masih panjang di depan sana.

Yup, perjalanan ini masih panjang untuk ditempuh. Saya sudah semester 7 sodara-sodara. Artinya sebentar lagi mau tidak mau harus nikah lulus. KKN sudah ditempuh, KP baru mau bulan depan, dan skripsi saya sudah sampai.. ehem, proposal.. eh baru niat bikin sih. Memang baru angan-angan, tapi setidaknya saya sudah ada gambaran. Bagaimana dengan anda? (sok nantang padahal yo rung ngopo2). Jujur saya sendiri belum ngapa-ngapain, masih bingung mikirin konsep tiba-tiba udah Desember aja. Ebuset. Rasa-rasanya perlu ada tulisan "what have you done?" di jidat saya biar keinget terus. Ah tapi lebih cocok kalau dibikin kaos sih. Jidat saya kurang menjual soalnya, gara-gara kurang dipake untuk mikirin skripsi akhir-akhir ini :))

Ingat, ini sudah Desember bung. Sebentar lagi tahun depan, mari berusaha lebih keras lagi. Tanamkan keyakinan bahwa cucuran keringat dan tangis doamu akan menjadi mutiara di kemudian hari. Seperti halnya pelangi yang setia menunggu hujan reda.

...
Selalu ada yang bernyanyi
Dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
Menanti seperti pelangi
Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

... 


-pukul 12.30,  jogja hujan deras disertai badai petir
tadinya niat beli ayam goreng di ujung gang sana, banjir, akhirnya makan telor asin

1 May 2015

A Bug

“Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up. You build up all these defenses, you build up a whole suit of armor, so that nothing can hurt you, then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life...You give them a piece of you. They didn't ask for it. They did something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn't your own anymore. Love takes hostages. It gets inside you. It eats you out and leaves you crying in the darkness, so simple a phrase like 'maybe we should be just friends' turns into a glass splinter working its way into your heart. It hurts. Not just in the imagination. Not just in the mind. It's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain. ”
― Neil Gaiman, The Sandman, Vol. 9: The Kindly Ones


Ini hanya sebuah kisah membosankan tentang seorang anak keturunan manusia.
Seperti apa kisahnya? Lemme tell you, kisahnya itu seperti:

Ibarat ndodok di pinggir jalan sambil menunggu hujan reda.

bingung? mari kita lihat ilustrasinya

koe ngopo mas

Coba tebak apa yang mas-mas berjubah hijau itu lakukan di seberang sana?
Apakah ia sedang berburu seekor pterodactyl?
atau hanya sekedar menunggu giliran untuk berenang ke sudut jalanan?
entah apa yang ia lakukan, tapi yang jelas dia sedang mempraktikkan sikap luhur nan terpuji:

sabar

sabar

sabar

dan percaya

rain will eventually stops, eh?

2 February 2015

What's around your house?

Apa yang biasa kalian lakukan kalau liburan? Saya tahu, mungkin kalian akan pergi ke pantai atau lihat gunung. Sama, saya juga.

Lalu apa yang biasa kalian lakukan kalau tidak ada kerjaan? Bahkan ketika wifi sedang down dan mau nyari sinyal hape saja susahnya minta ampun? Kalau saya sih bakalan tidur. Tapi kali ini spesial. Alih-alih menuju ruang tidur, saya malah menanjak anak tangga menuju loteng rumah. Apalagi kalau bukan demi melihat sinyal fullbar terisi penuh. Maklum, saya sedang sok sibuk saat itu.

Ini pertamakalinya dalam sekian minggu saya pergi ke loteng saat siang hari. Sesaat saya telah sampai di atas, saya merasa tinggi.  Menarik sekali, saya baru menyadari kenapa loteng dibangun di atas. Karena kalau di bawah namanya basement *slow clap*. Konon katanya, perjalanan ke loteng ini merupakan sebuah perjalanan yang cukup berat. Seberapa beratnya itu tergantung berat badan anda. Perjalanan saya sih tidak berat-berat amat. 

Dan alhamdulillah, misi saya untuk mendapatkan sinyal fullbar tercapai juga pada saat itu. Tapi semua tak berjalan seperti apa yang diharapkan. Meski sinyal sudah fullbar, kecepatan akses internet yang saya dapatkan hanya 0kbps. Konstipasi macam apa ini huh kzl.

Ya sudah, saya tidak bisa apa-apa. Saya mencoba mengamati sekeliling saya. Sepertinya ini tidak buruk-buruk amat. Sebenarnya kalau bisa dikatakan, pemandangan dari loteng rumah saya ini cukup menyenangkan. Masa bodoh dengan tai kelelawar yang berserakan dimana-mana. Organisme lain justru bisa menikmatinya, kenapa saya tidak? *kemudian ngemplok tai*

Bukan, tentu saja tidak. Masih banyak hal lain yang masih bisa dinikmati dari loteng ini. Seperti loteng depan rumah saya yang satu ini. Balkon kecil dengan genteng yang warna warni <3

really love the view

Entah untuk siapa ini dibuat. Saya sempat berpikir ini markas bangsa dwarf karena memiliki pintu yang tingginya kurang dari 1 meter.

 somehow it's kinda lovely place

Dari sudut pandang ini, bisa ditarik garis lurus hingga alun-alun utara kota. Pengen lihat yang njendul-njendul? Gampang! Tinggal tengok ke kiri, maka akan terlihat gunung merapi dan merbabu dengan cukup jelas. Bahkan dulu waktu erupsi 2006 dan 2010 saya sering melihat guguran lava sewaktu malam hari dari sini. Sewaktu tahun baru juga begitu, saya sekeluarga juga sering ngumpul bareng di balkon ini demi menikmati pesta kembang api yang biasanya dipusatkan di nol kilometer dan alun-alun utara.

set your eyes wide open, swing them from left to right

sebaik-baik loteng adalah tempat menyetrika baju dan menjemurnya

ini tandem banyu dan sumur

mari bercocok tanah

sendal swallow what are you doing here

tengok kanan

kenari ngebet kawin. sama kayak yang punya.

the wooden door of the ironing place

jepitan baju, digunakan untuk menjepit

are you going down

watch your head

the relic of grandfather

balkon selatan tengok kiri

balkon selatan tengok kanan

dan saya bukan ingin menyebrang jalan.

mari kita berpindah tempat

 something on the mirror. Guess what? a reflection

 bunga dan saklar. dicium dan ditekan.

 standing still

there was no penny, not even gopek

my father's bookshelf, windows 3.1 computer, and dot matrix printer. They were still working by the time I was 6.

Begitulah hasil keseloan saya. Mampir ke medreza.vsco.co juga ya mz mb.
.

13 December 2014

On My Mind

"What's on your mind?"

"Ngg, banyak."
Entah kenapa kalimat itu sama sekali tak merangsangku untuk menuliskan barang sepatah kata pun di kotak itu.

Tapi siapa sangka, justru formasi kata tersebut kadang membuatku menerka lebih jauh tentang apa yang sedang aku pikirkan.

Memangnya apa yang sedang kaupikirkan?

Tentang UAS dan seluk beluknya?

"Ya."

Tentang potensi gagal KP dan KI liburan esok?

"Mungkin"

Dan juga hiruk-pikuk-pertanyaan-mau-kkn-dimana-padahal-lppm-juga-belum-ngeluarin-listnya, ataupun semacamnya.

Lagi-lagi seperti ini. Lamunan di kala senja yang tak ingin berakhir sebelum ia berjumpa dengan pagi. Alasan klasik.

Di saat-saat seperti inilah, semua hal yang pernah aku pikirkan menyapaku kembali. Tak terkecuali tentang sepi. Ya, sepi. Sepi itu indah. Sepi itu menyenangkan. Semua orang pastilah membutuhkan sepi dalam hidupnya untuk membangun interaksi intrapersonal. Sebagian orang bahkan berjuang untuk menyepi.

Akan tetapi, tak peduli seakrab apapun seseorang dengan 'sepi', akan ada masanya orang tersebut benar-benar merasa sendiri. Sepi bisa berubah menjadi keramaian yang menyebalkan, karena terkadang riuhnya pikiran tak bisa dikendalikan.

Di titik inilah, aku bisa benar-benar merasakannya, tentang betapa pentingnya orang-orang yang menyelinap masuk ke dalam lingkaranku. Lingkaran ini terus membesar, terus melebar, hingga lingkaran itu tak lagi nampak, ia terlalu besar, lalu pudar.

"Kenapa?"

"Mungkin karena ia tak lagi spesial."

"Haha, dasar bodoh."

"..."

"I guess we're just bunch of familiar strangers after all."

Aku hanyalah sedang di sini, meniti mimpiku. Tidakkah kau tahu? Ada jeda yang tercipta di antara kita. Dan apabila jeda itu tiada lagi bersekat, maka saat itu lah...

aku mempunyai dua pilihan: 

aku tak perlu lagi bermimpi tentangmu 

atau 

aku hidup bersamamu di dalam mimpi.

11 November 2014

Harapan

Janganlah terlalu berharap sama orang lain karena pada akhirnya, cepat atau lambat, mereka akan mengecewakanmu.

Dan pernahkah kau berpikir, bahwa di luar sana pastilah ada orang lain yang sedang mengharapkanmu, tapi justru tak kau gubris sama sekali?

Itulah aku, sang manusia penuh harap yang sering menepikan harapan orang lain.
Itulah kamu dan kita, dalam rantai harapan, saling menuai rasa kecewa yang berjejal.

1 November 2014

Dear Procrastinator

Setidaknya ada dua tipe deadliner yang ada di dunia ini.

Tipe yang pertama, yaitu orang-orang yang bekerja keras sampai mepet deadline . Mereka tidak cepat puas, sehingga akan terus memperbaiki pekerjaannya hingga kesempatan yang mereka punya telah habis. Ini baru namanya deadliner sejati. Biasanya mereka adalah pribadi yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara. The world needs more people like this.

Tipe yang kedua, yaitu mereka yang suka menunda-nunda pekerjaannya. Alih-alih menyelesaikan kewajibannya, tipe yang kedua ini malah lebih suka mengerjakan hal-hal yang sebenernya tidak penting-penting amat. Tipe ini biasanya akan terlihat santai dan kuat menghadapi tumpukan pekerjaan di depan deadline, tapi bakalan bingung sendiri kalau udah mepet deadline. Mereka sering terlena dalam pemikiran delusional “everything is under control” walaupun pada kenyatannya…. chaos. Akibatnya, pekerjaan yang dihasilkan pun hanya sekedar “yang penting jadi”.

Tipe deadliner yang kedua, atau in english biasa disebut procrastinator, adalah penyakit produktivitas akut yang semakin menjangkiti umat manusia masa kini. Mengapa? terlalu banyak distraksi, tentu saja. Internet is everywhere, everyone is connected. Terlalu banyak informasi hingga orang-orang lupa bagaimana caranya fokus. Bahkan, tidak jarang kita mengeluh “too much news in one day” habis marathon liat berita di media. Iya, informasi yang kita dapatkan sehari-hari memang >80% tidak berguna.

Kembali ke persoalan deadliner, sebenarnya saya juga masih sering menjadi tipe kedua. Kemudian datanglah hari itu, hari ketika saya berpikir “Gimana ya rasanya jadi orang yang nggak suka menunda-nunda pekerjaan? Emang di mana letak asiknya jadi ‘wong sregep’?” (sebenernya saya dulu juga cah sregep YK, tapi itu tempo doeloe sebelum sumber internet sudekat).

Ceritanya, mulai hari itu saya sok nyoba-nyoba jadi orang rajin gitu. Saya mulai melakoni pekerjaan lebih awal. Pokoknya semuanya harus dikerjain tanpa keraguan dan dengan hati yang ikhlas! #sikap. Eh, ini serius, sesungguhnya keraguan dan hati yang terpaksa adalah salah satu (atau dua) penghambat terbesar pekerjaanmu.

Perubahan pun mulai terasa tak lama berselang.

Aktivitas seharian yang tadinya grusa-grusu, sekarang bisa jadi lebih kendor bak pake baju kebesaran... isis cah. Alhasil, saya bisa punya lebih banyak waktu buat ngerjain pekerjaan lain. haha. Jangan dikira kalo menyelesaikan pekerjaan lebih awal itu bisa bikin beban jadi berkurang, ga bakal, lebih santai sih iya, tapi kamu bakalan punya extra time buat hal-hal lain, seperti improve pekerjaan kamu, which is nice. 

It's like you're being fully in charge of your life.  It makes you feel peace in mind, strong, competent, and capable, while procrastination makes you feel weak, useless, and helpless

Hoam.